Being a Teacher

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”

Begitu yang sering kudengar sejak aku masih duduk di Taman Kanak-Kanak sampai sekarang di masa aku sudah bekerja. Menjadi seorang guru merupakan panggilan hidup yang mulia, tanpa guru kita tak akan menjadi pintar, tidak bisa mengerti apa-apa dan tidak memperoleh ilmu pengetahuan. Waktu SD aku memiliki guru favorit, beliau guru agamaku, namanya Pak Joko. Aku lupa nama belakangnya namun yang jelas beliau guru yang baik, ramah, dan pelajarannya merupakan pelajaran yang kutunggu dengan semangat.  Waktu SMP aku kembali memiliki guru favorit, beliau guru bahasa Inggrisku, namanya Pak Joko (juga, huahahahahahahaha, baru kusadari sekarang kalau nama kedua guru favoritku itu sama).
Sekalipun keduanya guru favoritku namun keduanya sangat bertolak belakang, Pak Joko (guru agama) orangnya kurus, kecil, ramah, dan kalau bicara lemah lembut. Pak Joko (guru bahasa Inggris) orangnya gemuk, besar, galak, tegas, dan berwibawa. Dan jujur saja karena aku mengagumi mereka, maka nilaiku di kedua mata pelajaran itu bagus. Aku ingin dilihat, ingin disayang, dan ingin dipuji kedua guruku itu, makanya aku rajin belajar dan berusaha sebaik mungkin.
Tapi sekalipun aku mengagumi mereka, aku tidak pernah punya cita-cita ingin jadi guru.
Alasannya ? Jadi guru itu gajinya kecil, kerjaan seabrek, menguras tenaga lahir batin
dan kayaknya guru yang kulihat itu ga ada yang kaya….paling mewah naik mobil kijang dan itupun level kepala sekolah. Kalau guru biasa sih paling naik motor.

Dan akupun membulatkan tekadku “Aku Tidak Mau Jadi GURU”.

Kenyataannya ????
Sekarang aku jadi guru. Entah karena kualat, atau karena keadaan aku sekarang menjadi guru.
Mengajar anak-anak TK sampai SMP yang tidak pernah kubayangkan dan kucita-citakan sebelumnya.
Sebelum aku mengajar di lembaga pendidikan seperti sekarang, aku mencari kerja part time
dengan les privat anak-anak SD di sekitar daerah rumahku. Awalnya wah aku bingung sekali, bagaimana caranya mengajar ya ? Karena aku ini bukan tipe orang yang menyenangi anak kecil. Meski ga benci juga. Tapi life must go on kan ?
Dengan modal buku pelajaran anak-anak SD yang kubeli di Gramedia jadilah aku guru les privat.
Tidak mudah dan sulit. Itu kesan pertamaku ketika mengajar anak-anak itu. Kesulitan utama bukan terletak pada materi pelajaran melainkan pada cara menyampaikan materi dan mendekati anak-anak supaya mereka mau mendengarkan. Hari pertamaku mengajar, aku mencoba bersikap tegas ke anak-anak.
Mereka bukannya takut malah menjadi bandel dan semakin ga mendengarkan apa yang kukatakan.
Aku bingung harus bagaimana. Akupun memperlunak sikap, tanya apa hobi mereka, film favorit mereka
dan apa yang tidak mereka sukai. Maunya belajar dengan cara yang bagaimana ? Begitulah, aku berusaha mempelajari sikap dan karakter mereka. Apa yang mereka suka dan tidak suka ?
Bahkan aku ikut menonton film favorit mereka supaya aku tau jalan ceritanya dan nyambung
kalau ngobrol dengan anak-anak. Perlahan aku mulai dekat. Dan kalau sudah dekat, belajar jadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Kalau mereka mulai bosan, aku ajak mereka ngobrol juga main (yang masih ada hubungannya dengan pelajaran) seperti tebak-tebakan, kuiz, dapat hadiah sticker dan permen atau game komputer. Lama-lama asyik juga ternyata mengajar itu. Aku harus belajar lagi pelajaran SD yang sudah lama kulupakan. Kalau ke Gramedia, aku pasti ke tempat buku-buku pelajaran SD. Tak terasa muridku bertambah dan kini aku tidak lagi mengajar privat melainkan mengajar di kursus komputer anak-anak. Ilmuku bertambah, dan akupun semakin dekat dengan anak-anak.

Sekarang aku menjadi mengerti perasaan guru-guruku dulu kalau murid-muridnya bandel, melawan, ga mau nurut, manja, dan sebagainya. Aku paham kesulitan mereka mendidikku dulu, sungguh berlawanan dengan apa yang kupikirkan dulu tentang mereka. Ibu itu menyebalkan, Bapak itu membosankan, dsb.
Aku tidak tau bagaimana sulitnya mereka mempersiapkan diri, materi dan mental saat mengajar di kelas. Bagaimana rasanya kalau kami tidak mengerti walau sudah dijelaskan belasan kali padahal ulangan umum sudah dekat. Gimana rasanya kalau murid-murid hasil didikannya tidak mengalami kemajuan, apa cara mengajarnya salah, atau memang anaknya yang lemot atau karena mereka tidak paham caraku menjelaskan. Sekarang semuanya itu kurasakan sendiri. Sungguh berat dan tidak mudah. Namun juga sungguh bangga saat muridku mengerti apa yang kuajarkan.

Thank you sir, thank you miss, thank you very much to all of my teacher.
You are all the BEST!

One Comment Add yours

  1. Putri says:

    Wakakakakakakaka….

    ngelihat tulisan lo bikin gw ngakak… Sapa sangka seorang roshpinna akhirnya jadi guru….

    Padahal dulunya mo jadi programer hehehehehehe ujung2nya jadi guru….

    Ros gw saranin kalo ada lowongan di TarQ lo coba aja ngelamar disana ngerasain ngajar adek kelas hehehehehehehehe…..

    Emang gak gampang jadi guru itu lo kudu ngerti hati murid lo terkadang emang kudu menjadi bagian dari mereka… Ngebayangin lo nonton naruto ato spongebob kartun favorite murid lo… hehehehehehe

    Ya saran gw sih…. met berjuang ya… sapa tahu lo jadi the best teacher di sekolah hehehehehehehe kayak bu Shinta, guru biologi SMA kita…. hehehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s