Lots trouble

Oke..kemarin dan senin gue menemani anak-anak kelas 7 retret di bintaro canossa, keluhan pertama mereka adalah tidak adanya AC. Sebenernya Ac ada tapi kami ga nyalakan karena tidak semua ruangan ber-AC dan sepertinya sekolah ga bayar untuk kamar ber-ac. Anak-anak udh terbiasa ber-AC ria di rumah n di sekolah jadilah mereka kepanasan n mengeluh. Keluhan kedua mereka ketika handphone dikumpulkan ke guru. Alasannya mereka perlu untuk menghubungi orang tua, pas kami bilang nanti malam akan diberikan 30 menit untuk telp mereka baru bilang buat main ama internetan, soalnya pas dikasih waktu buat nelpon malah ga nelp. Bener-bener kan tuh anak-anak? Hehehehe

Salah seorang pimpinan ternyata mengundurkan diri, itu penyebabnya dia selama ini ga masuk. Ga ada yang tau, yang jelas kami semua kecewa karena tidak adanya pemberitahuan sebelumnya, ini begitu mendadak. Tapi yah dia lah yang berhak menentukan kehidupannya sendiri karena dia yang menjalaninya, mungkin memang begini jalannya. Gue seharian ini mengantuk, padahal semalam udah banyak tidur sampai lupa makan malam segala hehehehe. Alergi gue sempat kambuh pas di sana tapi sekarang udah menghilang.

Gue merasa ada kekurangan saat bekerja saat ini, gue masih senang berada di antara anak-anak sekalipun mereka suka mengesalkan tapi….rasanya ide-ide di otak ini lari entah ke mana, otak malah mikirin buku, cross stitch dan travelling. Ngaco kan..? Sekaligus adanya kekhawatiran gue akan digeser kalau seandainya gue ga berhasil membimbing anak-anak untuk IGCSE tahun ini. Gue mikir gitu karena gue ga dipilih untuk mengajar senior high. Di satu sisi gue merasa senang karena gue tahu ga mudah membimbing anak-anak senior high, di sisi lain gue merasa ga diperhitungkan. Entah apa alasannya sampai guru lain yang ga punya pengalaman itu yang diminta dan bukan gue yang memang guru subject yang sama? Apakah gue dianggap gagal sebelumnnya? Gue ga tau, tapi itu cukup mengusik batin gue. Itu sebabnya gue merasa semakin berat aja menjalaninya. Apa gue memang cocok dengan pekerjaan ini? Kalau cocok kenapa merasa berat? Kata temen gue yang mantan frater itu, kita akan merasa cocok atau merasakan pekerjaan kita sebagai panggilan kalau kita memang bahagia menjalaninya.

Gue dulu meminta seseorang untuk melepaskan pekerjaannya, namun dia ga mau. Dan sekarang gue ga mau memintanya lagi. Cukup hanya sekali gue meminta dan mengemis sama dia. Setelah itu gue akan serahkan aja sama nasib. Mungkin kebahagiaan gue ga terletak di sana. Gue sekarang lagi senang tukeran pola dengan sesama penggemar cross stitch, dia ingin tukaran tapi selama ini dia cukup banyak memberi lho…dia menanyakan pola-pola apa yang gue suka, kalau memang dia punya, dia akan upload di blognya ..dan koleksi polanya banyak sekali, juga mahal-mahal, jadi gue sangat beruntung kan? Gue memang ga ada teman sehobi yang dekat, hobi gue sering dianggap ga berguna dan hanya membuang uang. Makanya gue senang bila ada yang memiliki hobi yang sama sehingga bisa saling berbagi..dan tukar pikiran. Its a lot of fun actually but unfortunately not everybody understand about it..even my parents.

Makanya saat salah satu murid gue diminta menulis surat ke orang tuanya setelah retret kemarin ada yang menulis, dia tidak suka dirinya dibanding-bandingkan dengan anak teman ibunya. Dia kesal dan sudah mencoba mengungkapkannya tapi menurut ibunya, itu ga benar, itu supaya anaknya jadi lebih baik. Tapi tetap aja murid gue ga suka hal itu dan lama-lama dia berubah jadi anak yang cuek dan ga pedulian sama apapun. Dia susah untuk fokus ke pelajaran. Ketika gue menanyakan hal itu tadi, dia menangis, dan membalikkan badan dari gue, dia malu karena laki-laki tapi menangis Gue bilang semua orang juga pernah menangis jadi dia ga perlu malu. Menangis itu alami, ga peduli cowok atau cewek. Dari tangisannya gue bisa lihat dia sudah memendam hal ini dan jarang diungkapkan lagi. Gue minta dia ungkapkan lagi ke ibunya secara terus terang dan mungkin lebih jelas. Dia juga harus berubah dan menunjukkan ke ibunya kalau memang dia bisa jadi anak baik dan ibunya bisa lebih bangga terhadap dia.

Menjadi wali kelas itu cukup sulit, setiap anak punya latar belakang berbeda jadinya kadang susah buat gue untuk memahami mereka secara dalam. Gue sendiri bukan tipe yang mudah beradaptasi dengan orang baru, jadi di sini mau ga mau gue harus berusaha memahami mereka, dan ga asal marahin anak-anak. Ah…bener-bener deeeeh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s