Emily of New Moon

 

 

 

 

 

 

 

 

EMily, gadis cilik berusia 11 tahun tinggal di Maywood bersama ayahnya tercinta Douglas Starr dan seorang pengurus rumah tangga harian yang sering dikatai “gembrot tak berguna”, Ellen Greene. Sang ayah, Douglas mulai sakit-sakitan sepanjang 5 tahun terakhir sementara ibu Emily, Juliet Murray meninggal saat Emily masih kecil dan belum mampu mengingatnya. Meski begitu, EMily merasa tidak kekurangan kasih sayang meski secara materi hidup mereka amatlah sederhana dan jauh dari kemewahan. Ayah Emily seorang penulis dan Emily sendiri tampaknya mewarisi bakat itu dan sangat menyukai menyusun cerita dalam benaknya dan menuliskannya dalam buku harian.

Di tengah kebahagiaannya, EMily diberitahu bahwa hidup ayahnya tak akan lama lagi dan tinggal dalam hitungan minggu, mereka memanfaatkan momen-momen yang tersisa tersebut sebagai kenangan dari sang ayah. Ayahnya juga menceritakan mengenai masa lalu dirinya dan ibu Emily. Juliet Murray adalah putri bungsu keluarga Murray yang sangat terhormat dari New Moon. Ia memilih kawin lari bersama DOuglas aat berusia 18 tahun dan menetap di Maywood dalam kondisi yang serba kekurangan namun mereka bahagia. Peristiwa kawin lari Juliet dianggap aib bagi keluarga Murray dan mereka sangat membenci DOuglas Starr karenanya. Sekalipun begitu sebagai keluarga baik-baik dan terhormat, mereka menampung EMily dalam keluarga mereka dan membesarkan anak itu setelah ayahnya meninggal. Awalnya mereka merasa bingung siapa yang harus menerima Emily, dan mereka memutuskannya dengan undian. Emily diperkenalkan oleh Ellen kepada keluarga ibunya satu-persatu, ada Paman Wallace yang gemar menyindir, bibi Ruth Dutton yang selalu mendengus, Bibi Elizabeth yang keras hati, Bibi Laura si penyayang dan lembut hati, Paman Oliver sang dermawan dan sepupu Jimmy yang gemar membuat puisi dan pernah terjatuh ke dalam sumur sehingga mengakitbatkan dirinya kurang waras. Karena tak ada yang mau menerima Emilys ecara sukarela maka keluarga Murray mengundi nama-nama mereka dan meminta EMily mengambil salah satu nama dalam kertas terlipat itu. Dan pilihannya jatuh kepada Elizabeth Murray dari New Moon.

Elizabeth tinggal bersama Laura dan keponakannya Jimmy. Peternakan dan Pertanian New Moon memegang teguh tradisi keluarga selama bertahun tahun dan menolak segala bentuk kemajuan zaman. Di masa sudah ada penerangan dari listrik, Elizabeth tetap memakai lilin sebagai alat penerangan dan panci-panci besar bersama kayu bakarnya untuk memasak ketimbang gas. Di satu sisi, cara ini lebih aman dan alami, di sisi lain menjengkelkan sepupu Jimmy yang bekerja di sana. Di masa awalnya tinggal di New Moon, Emily merasa sangat merindukan Maywood, Dewi Angin, dan Mike, kucing tercinta yang harus ia tinggalkan karena Bibi Elizabeth melarangnya. Ia diperbolehkan membawa Saucy Sal, kucingnya yang lain hanya karena Laura dan sepupu Jimmy memohonnya. Di New Moon, menggunakan kertas secara berlebihan merupakan pemborosan besar sementara Emily sangat membutuhkannya untuk menulis.

Saat Emily marah, kecewa ataupun bergembira terhadap sesuatu maka ia akan menuliskannya supaya jiwanya kembali merasa tenang. Emily menuliskan segala sesuatunya dengan sangat jujur dan seringkali goresan penanya sangat tajam karena ia menuliskannya di saat emosi mendominasi hati dan pikirannya. Ia menulis surat-surat untuk ayahnya di surga dan menceritakan semua yang terjadi kepadanya karena di peternakan tua itu, tak ada yang bisa dijadikan teman curhat. EMily menuliskan semua itu di kertas-kertas bekas pernyataan leluhur keluarga yang tadinya akan dibakar oleh Bibi Laura. Bagian belakang kertas tersebut masih kosong sehingga Emily bisa menggunakannya untuk menuliskan apa yang ingin ditulisnya baik itu puisi, diary, ataupun cerita yang melintas di benaknya. Beberapa waktu kemudian, sepupunya Jimmy secara teratur membelikannya buku harian (tentu saja tanpa sepengetahuan bibi Elizabeth) yang dipanggil sebagai “Buku Jimmy”.

EMily juga mulai bersekolah dan mengalami banyak masalah karena sebelumnya ia hanya diajari oleh ayahnya di rumah. Namun ia menyukai sekolah dan teman-temannya. Persahabatannya dengan Rhoda Stuart yang hanya seumur jagung, persahabatan uniknya dengan Ilse Burnley, putri Dr. Allan Burnley yang selalu diabaikan dan persahabatannya yang manis dengan Teddy Kent, bocah yang sangat mahir melukis dari Tansy Patch membawa kebahagiaan bagi Emily yang sangat merindukan kasih sayang tulus dari orang di sekitarnya. Tak ketinggalan hadirnya pemuda kasar yatim piatu bernama Perry Miller yang menyukai Emily sejak ia menyelamatkan gadis itu dari kejaran banteng dekat sumur tua James Lee. Selain itu perkenalan Emily dengan Dean Priest (Jarback Priest) membantu EMily dalam menemukan kata-kata indah untuk puisi dan ceritanya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat khas L.M Montgomery. Awalnya terasa sangat mirip dengan Anne dari Green Gables tapi ketika meneruskan membacanya maka akan segera diketahui bahwa Emily sangat berbeda dengan Anne. Sifat Emily yang angkuh(turunan Murray) dan nakal membuat kisah ini terasa segar dan sama sekali tidak membosankan. Emily yang riang, EMily yang mempesona mengantar kita ke dalam dunia imajinasi yang bahkan sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s