Make A Wish

Judul di atas itu berasal dari komik yang kubaca dengan judul manga “Let’s make a wish” / “Kujira No Mejirushi” karya Sao Takebayashi. Sekilas melihat covernya seperti buku komik biasa aja yang berkisah soal anak-anak. Tapi begitu kubaca isinya, berkali-kali aku terharu.

Buku ini mengisahkan mengenai kisah nyata perjuangan para pasien anak-anak memenuhi impiannya meski mereka sedang mengalami sakit parah. Sakit parah yang kumaksud di sini adalah sakit seperti Leukimia, Glioma, Neuroblastoma, dll. Penyakit-penyakit seperti tumor dan kanker ganas ini harus dialami oleh Daiki (kelas 1 SD) dan Mio (kelas 6SD).

Daiki yang bernama lengkap Daiki Ishikawa diketahui mengidap Neuroblastoma atau kanker syaraf yang sudah mencapai stadium 4. Daiki yang sehari-harinya dikenal sebagai anak yang periang, tidak bisa diam, gemar berenang dan sangat disenangi oleh teman-temannya itu, tiba-tiba saja mengalami demam dan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Awalnya kedua orang tua Daiki mengira Daiki hanyalah demam biasa karena ia terlalu lelah bermain tapi setelah dibawa ke dokter, Daiki divonis menderita kanker syaraf.

Tentu saja ibu Daiki tidak terima, namun ia melihat kondisi Daiki semakin menurun dan harus diopname juga berhenti sekolah. Selama opname Daiki tidak diberitahu mengenai penyakitnya, karena ibunya khawatir Daiki tidak bisa menerima kenyataan itu. Dokter yang menangani Daiki, berpesan bahwa apapun yang terjadi anak-anak tidak boleh dibohongi karena sekali mereka dibohongi maka mereka tidak akan lagi percaya pada orang dewasa. Dan hal ini akan memperlambat penyembuhannya. Jika tidak ingin berbohong maka batasi saja yang harus diketahui oleh anak. Hal ini pula yang dilakukan oleh ibu Daiki. Tapi suatu saat ketika Daiki menanyakan penyakitnya dan menatap lurus ke mata ibunya, sang ibu mengerti bahwa ia harus menjelaskan penyakit Daiki yang sesungguhnya. Di luar dugaan, Daiki mampu menerima kenyataan itu dengan tabah. Ia kasihan melihat ibunya terus berjuang menemaninya di RS, dan ia juga sedih karena tidak bisa mewujudkan impiannya.

Ketika penyakit Daiki sampai pada puncaknya, dokternya meminta sang ibu memenuhi apapun yang diinginkan oleh Daiki selagi Daiki masih memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Sang ibu pun menanyakan apakah yang menjadi keinginan putranya itu, dan Daiki menjawab “Aku ingin jalan-jalan ke Disneyland sekeluarga”. Mendengar jawaban Daiki, sang ibu terdiam. Disneyland jaraknya cukup jauh dari RS, kondisi Daiki tidak memungkinkan, selain itu darimana mereka memperoleh biaya berpergian karena selama ini semua biaya tercurah untuk pengobatan Daiki.

Saat kebingungan bagaimana caranya memenuhi keinginan Daiki, ibunya melihat poster Make A Wish Japan. Di sana tertulis bahwa organisasi ini akan berusaha memenuhi harapan anak-anak yang divonis menderita penyakit berat selagi mereka masih memiliki kesempatan. Tanpa pikir panjang sang ibu langsung mengontak dan mendapat jawaban positif dari MAWJ. Daiki beserta keluarganya jalan-jalan ke Disneyland dan menginap di Hotel Sheraton. Dan rupanya setiba di sana Daiki menemukan impiannya yang lain, ia ingin menjadi direktur utama Sheraton selama sehari. MAWJ kembali mengabulkan impian Daiki.

Daiki mengajukan usulan mengenai lambang Sheraton yang bisa dilihat dari udara dan ia mengajukan bagaimana jika lambangnya ikan paus biru. Deg-degan dan cemas apakah usulnya akan diterima oleh para karyawan Sheraton berakhir dengan rasa lega ketika melihat mereka semua menerima usul Daiki dengan antusias dan segera mengerjakannya. Daiki berharap bahwa kelak anak-anak sepertinya juga bisa menginap di hotel ini dan merasakan pengalaman seperti dirinya.

Setelah lambang Sheraton selesai dibuat, Daiki menerima foto dan ucapan terima kasih dari Sheraton atas usulannya itu dan menawarkan kembali posisi Direktur padanya, namun ia menolak dan menjawab biar anak lain saja yang mengisi posisi itu, baginya sekali saja sudah cukup. Beberapa hari kemudian, Daiki pun mengembuskan nafas terakhirnya, namun semangat, keceriaan, dan kenangannya tak akan pernah terhapus dari ingatan karena Daiki telah berupaya memberikan yang terbaik semasa hidupnya.

Selain Daiki Ishikawa, di buku ini juga mengisahkan perjuangan Mio Shimizu yang harus meninggalkan sekolah dan teman-temannya demi berjuang mengobati penyakitnya. Anda bisa membaca dengan membeli komiknya di toko buku terdekat di kota anda. Semoga kisah mereka semakin membuka mata hati kita untuk selalu bersyukur atas kehidupan ini.

Hidup itu Anugerah, Hidup itu Hadiah.

Betapa bahagia yang menyadarinya, betapa ringan langkah mereka

(Diambil dari buku biru GEMA Bandung)

NOTE: Yayasan Make A Wish ini sungguh ada dan telah dibangun sejak 1980 di berbagai negara. Anda bisa mengunjungi website Make-A-Wish Foundation untuk mengetahui lebih lanjut mengenai yayasan ini. Siapa tahu kita bisa membantu Daiki dan Mio lain yang kurang beruntung namun memiliki impian dan semangat tinggi untuk mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

3 Comments Add yours

  1. superecho says:

    Wah, memang sangat menyentuh… Kehidupan tak bisa dibeli sehingga sungguh tak ternilai…
    Tapi kok ceritanya Mio shimizu kurang dibahas nih…?? Masa cuma Daiki doang…
    Anyway, good post!

  2. roshpinna says:

    Abis kalau ngebahas soal Mio, jd panjang bangetttt…hehe thanks for comment

  3. ofa says:

    iya kak.. aku dulu juga pernah baca..ampe nangis deh bacanya.. huhuhu.. jadi pengen liat paus nya daiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s