Kau, aku dan sepucuk angpau merah

2015-390x221

 

Welcome 2015!

Year of Light, hope and blessings!

Pagi ini aku akan mencoba kembali menulis, setelah berkutat tidak tidur membaca buku, dan di tahun yang baru ini selesai membaca buku yang sudah lama sekali kubeli namun baru sekarang berani kubaca, akhirnya tamat juga kubaca, butuh setahun penuh (3 hari deh sebenarnya, hehehe) untuk menyelesaikannya.

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

“Cinta sejati selalu sederhana”

kau-aku-dan-sepucuk-angpau-merah

Buku ini mengisahkan tentang cinta, ada sekian banyak jenis cinta di dunia ini namun sejatinya, cinta adalah anugerah terbesar yang dimiliki oleh manusia. Urusan cinta selama ini selalu terkesan rumit, tidak jelas, seringkali membuat makan tak nikmat tidur tak nyenyak. Padahal cinta yang sejati selalu sederhana. Manusia yang senang membuatnya rumit, memaksakan jalan cerita supaya bisa sesuai kehendak hati.

Adalah seorang pemuda yang konon hatinya paling lurus sepanjang tepian sungai Kapuas bernama Borno. Borno seorang pemuda berusia 22 tahun, hidupnya tak jelas, pekerjaannya apalagi. Lulus SMA, tak tahu apa yang dikerjakan, ia sibuk berganti-ganti pekerjaan sampai akhirnya pekerjaan sebagai pengemudi sepit lah yang memikat hatinya juga membuka lembaran baru kehidupan serta cintanya.

Angpau merah menjadi awal dari kisah cinta seorang Borno, juga menjadi titik utama dari cerita ini. Di hari resmi pertamanya menjadi seorang pengemudi sepit, Borno bertemu dengan gadis cantik sendu menawan berbaju kurung warna kuning. Di sepit barunya yang dinamai “Borneo”, hati Borno tertambat pada sang gadis. Gadis itu meninggalkan angpau merah di dasar sepit milik Borno. Borno yang keturunan Melayu mengira angpau tersebut adalah amplop merah yang berisikan surat penting, dia pun bergegas mencari gadis itu untuk mengembalikannya. Adegan kejar-mengejar pun terjadi, Borno berusaha sebaik mungkin mengejar gadis itu namun benarlah pepatah lama “Semakin kau kejar, maka dia akan semakin menjauh. Jika tidak kau cari, maka dia akan mendekat dengan sendirinya”. Saat Borno sudah putus harapan karena mengejarnya dengan sepit ke seberang sungai, si gadis sendu menawan ternyata ada di dekatnya, di dermaga kayu tempat sepitnya tertambat, tersenyum manis, dan bertanya “Abang Borno mau angpau?”

Hari demi hari Borno pun semakin  berusaha mendekati gadis itu, serangkaian prosesi bodoh orang yang sedang mabuk cinta pun dimulai. Borno menghafal jam keberangkatan sang pujaan, dia berusaha menempatkan sepitnya di antrean nomor tiga belas pada pukul 7.15 dengan harapan sang pujaan akan naik sepitnya menyebrangi Sungai Kapuas menuju ke tempatnya bekerja. Setelah beberapa hari gagal, akhirnya Borno berhasil menemukan waktu yang pas untuk antrean sepitnya. Percakapan pun dimulai, benarlah orang yang sedang jatuh cinta, punya seribu pertanyaan di hati untuk sang pujaan tapi tak satupun yang keluar. Borno pun demikian, setelah sekian banyak lirik-lirik, percakapan pendek, tak sedikit pun dia berani menanyakan nama sang gadis. Setelah bersusah payah mengeluarkan lelucon supaya dianggap pria humoris (kata orang pria humoris lebih disukai wanita) sang gadis sedikit pun tidak terkesan dan malah sedikit tersinggung, Borno pun memperoleh namanya, “Namaku Mei, Abang”, “Meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak mentertawakannya.”

Borno dan Mei, keduanya menjadi dekat, entah kebetulan atau takdir yang membawa mereka selalu bertemu tak ada yang tahu. Tokoh-tokoh lain seperti Cik Tulani, Koh Acong, Bang Togar dan Pak Tua menjadi hal yang menyegarkan sekaligus mengharukan dari buku ini. Dari kehidupan sehari-sehari pemilik warung (Cik Tulani), pemilik toko kelontong (koh Acong), ketua pesatuan pengemudi sepit yang menyebalkan tapi setia kawan (bang Togar) dan seorang tua yang bijaksana (Pak Tua), kita bisa mempelajari banyak hal. Salah satunya adalah persatuan, tidak ada yang namanya membeda-bedakan antara orang keturunan, warga asli maupun pendatang, semuanya sama di mata mereka, “Orang Pontianak”.

Pak Tua yang bijaksana menjadi favoritku, petuah-petuahnya tentang cinta, amboi sungguh mengena sekaligus menusuk hati. Salah satunya ketika tiba kesempatan bagi Borno untuk mengejar Mei ke Surabaya dalam rangka menemani pak Tua berobat. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali, namun apa mau dikata Borno tak memiliki alamat sang pujaan hati. Dicari dan dicari tak kunjung didapatnya, setelah bertanya pada pak Tua bagaimana sebaiknya, dengan bijaknya pak Tua menjawab

“ Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau sampai pulang ke Pontianak, kau tidak bertemu gadis itu, berarti bukan jodoh. Sederhana, bukan?”

Membaca buku ini mengingatkanku di saat awal aku mengenal cinta, sungguh-sungguh NORAK kelakuanku waktu itu. Sama seperti Borno, berbagai jenis prosesi mulai dari yang bodoh sampai super bodoh pun kulakukan demi selangkah lebih dekat ke pujaan hati. Tapi dari semua yang kualami, benarlah bahwa tak peduli seberapa pun usaha kita mengejar, mendekati, mempertahankan, jika dia memang bukan milikku maka dia akan tak akan pernah menjadi milikku. Tapi meski tak pernah diusahakan, tak pernah dibayangkan apalagi dipikirkan, tiba-tiba saja seseorang yang tak disangka, masuk ke kehidupan kita dan menjadi takdir kita. Sungguh yang namanya takdir itu ajaib, hanya Tuhan yang tahu kapan waktu yang paling tepat buat kita.

Nah, para pencinta, ataupun kamu yang sedang mabuk kepayang dan gundah gulana karena gumpalan perasaan bernama cinta, bacalah kisah cinta seorang Borno, sungguh manis dan sederhana, tidak menuntut dan menggurui, yang ada hanyalah ketulusan, itulah cinta dari pemuda yang hatinya paling lurus di sepanjang tepian sungai Kapuas ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s